Siapakah Penemu Teleskop?

Ilustrasi Teleskop (Gambar berasal dari Wikimedia Commons yang diambil dari halaman 789  jurnal “Die Gartenlaube” tahun 1871 dan berada di domain publik)

Ilustrasi Teleskop
(Gambar berasal dari Wikimedia Commons yang diambil dari halaman 789 jurnal “Die Gartenlaube” tahun 1871 dan berada di domain publik)

Teleskop merupakan salah satu penemuan manusia yang sangat penting. Perangkat sederhana yang menjadikan benda jauh terlihat dekat dan memberi perspekif yang baru bagi penggunanya ini telah memberikan gambaran yang lebih luas mengenai alam semesta. Dengan ditemukannya teleskop, manusia menjadi sedikit lebih memahami tentang benda-benda di luar Bumi. Tapi siapa penemu teleskop? Seperti halnya penemu mikroskop, penemu teleskop juga tidak diketahui dengan pasti dan masih menjadi misteri hingga saat ini.

Lippershey, Jansen, atau Metius?

Zacharias Jansen (atas) dan Hans Lippershey (bawah) Gambar diambil dari Wikimedia Commons dan berada di domain publik.

Zacharias Jansen (atas) dan Hans Lippershey (bawah)
Gambar diambil dari Wikimedia Commons dan berada di domain publik.

Orang pertama yang mengajukan permohonan paten untuk teleskop adalah seorang pembuat kacamata dari Belanda yang bernama Hans Lippershey (Lipperhey). Untuk mengetahui siapakah Hans Lippershey silakan baca artikel “Siapakah Penemu Mikroskop?” terlebih dahulu.

Pada tahun 1608, Lippershey mencoba mengklaim sebuah perangkat dengan tiga kali pembesaran. Ia mengajukan paten kepada pemerintah Belanda. Perangkatnya itu memiliki lensa okuler cekung sejajar dan lensa objektif cembung. Salah satu kisah mengabarkan bahwa ia mendapat ide mengenai perangkat itu dari dua anak di tokonya yang mengangkat dua lensa dan membuat  baling-baling yang jauh menjadi terlihat dekat. Kisah lain menuduhnya telah mencuri ide dari pembuat kacamata lainnya, Zacharias Jansen. Jansen dan Lippershey tinggal di kota yang sama dan keduanya sama-sama membuat peralatan optik.

Orang Belanda lainnya, Jacob Metius juga mengajukan permohonan paten untuk teleskop beberapa minggu setelah Lippershey. Karena klaim yang sama, kedua aplikasi tersebut ditolak oleh pemerintah Belanda. Selain itu, pemerintah Belanda juga mengatakan bahwa perangkat ini cukup mudah untuk dibuat sehingga sulit untuk memberikannya paten. Pada akhirnya, Metius mendapatkan sedikit hadiah, tetapi pemerintah juga membayar Lippershey untuk biaya pembuatan salinan teleskopnya.

Para ilmuwan umumnya berpendapat tidak ada bukti nyata bahwa Lippershey tidak mengembangkan sendiri  perangkat teleskopnya. Sehingga Lippershey mendapatkan kredit dalam penemuan teleskop karena permohonan patennya. Sementara Jansen mendapatkan kredit untuk penemuan mikroskop majemuk. Keduanya terbukti telah memberikan kontribusi dalam pengembangan kedua perangkat.

Teleskop Galileo dan Beberapa Ilmuwan Eropa

Galileo Galilei (Sumber: Wikimedia Commons, Gambar ini berada di domain publik)

Galileo Galilei
(Sumber: Wikimedia Commons, Gambar ini berada di domain publik)

Pada tahun 1609, Galileo Galilei mendengar berita tentang peralatan-peralatan yang dibuat oleh orang Belanda, dan dalam beberapa hari ia telah mampu membuat salah satu peralatannya sendiri — tanpa melihat salah satu peralatan dari Belanda tersebut. Dia membuat beberapa perbaikan pada desain awal dan kemudian menunjukkan perangkatnya tersebut kepada Senat Venesia. Senat kemudian menjadikannya dosen di Universitas Padua dengan gaji dua kali lipat dari gajinya, seperti yang dijelaskan oleh Stillman Drake dalam bukunya “Galileo at Work: His Scientific Biography” yang diterbitkan tahun 2003.

Galileo merupakan orang pertama yang mengarahkan teleskop ke langit. Dengan teleskopnya ia mampu melihat gunung dan kawah di Bulan, serta pita cahaya yang menyebar dan melengkung di langit (Galaksi Bimasakti). Dia juga menemukan bintik Matahari dan beberapa bulan (satelit) Jupiter.

Gambar fase Bulan oleh Galileo (Sumber: Wikimedia Commons, gambar ini berada di domain publik)

Gambar fase Bulan oleh Galileo
(Sumber: Wikimedia Commons, gambar ini berada di domain publik)

Etnografer dan matematikawan Inggris, Thomas Harriot, juga menggunakan teropong untuk mengamati Bulan. Harriot menjadi terkenal karena perjalanannya ke pemukiman awal di Virginia untuk merinci sumber daya di sana. Gambar Bulan miliknya yang bertanggal Agustus 1609 telah mendahului Galileo, tetapi tidak pernah dipublikasi.

Semakin banyak Galileo melihat angkasa, ia semakin memercayai teori Copernicus yang mengatakan bahwa Matahari adalah pusat dari planet-planet. Galileo kemudian menulis buku “Dialogue Concerning the Two Chief World Systems, Ptolemaic and Copernican” dan mendedikasikannya kepada Paus Urban III. Akan tetapi gagasannya ini dianggap sesat, ia kemudian dipanggil sebelum inkuisisi di Roma pada tahun 1633. Dia kemudian dijatuhi hukuman tahanan rumah, di mana ia terus bekerja dan menulis sampai akhir hayatnya pada tahun 1642.

Di tempat lain di Eropa, para ilmuwan mulai memperbaiki desain teleskop. Johannes Kepler mempelajari optik dan merancang teleskop dengan dua lensa cembung. yang membuat gambar tampak terbalik. Belajar dari tulisan Kepler, Isaac Newton beralasan bahwa lebih baik membuat dari cermin daripada lensa sehingga dibuatlah teleskop refleksi yang terkenal pada tahun 1668. Berabad-abad kemudian teleskop refleksi medominasi dunia astronomi.

Menjelajah Kosmos

Teleskop refraksi terbesar yang pernah dibangun dibuka di Observatorium Yerkes, Williams Bay, Wis., pada tahun 1897. Tetapi, lensa kaca yang memiliki lebar 40 inci di Yerkes segera menjadi usang oleh kehadiran cermin besar. Teleskop refleksi The Hooker yang memiliki cermin dengan lebar 100 inci dibuka pada tahun 1917 di Observatorium Mount Wilson, Pasadena, California. Di sanalah astronom Edwin Hubble menentukan jarak dari Nebula Andromeda — yang jauh melampaui Bimasakti.

Teleskop Hubble (Sumber: Wikimedia Commons, gambar berada di domain pubik karena gambar dibuat oleh NASA, di mana kebijakan hak cipta NASA mengatakan bahwa “Materi dari NASA tidak dilindungi undang-undang kecuali tercatat di dalamnya”)

Teleskop Hubble
(Sumber: Wikimedia Commons, gambar berada di domain pubik karena gambar dibuat oleh NASA, di mana kebijakan hak cipta NASA mengatakan bahwa “Materi dari NASA tidak dilindungi undang-undang kecuali tercatat di dalamnya”)

Dengan berkembangnya pengetahuan mengenai gelombang radio, ilmuwan tidak hanya bisa mempelajari cahaya, tetapi juga gelombang elektromagnetik di luar angkasa. Seorang insinyur Amerika bernama Karl Jansky adalah orang pertama yang mendeteksi radiasi radio dari luar angkasa pada tahun 1931. Ia menemukan sumber gangguan radio dari pusat Bimasakti. Sejak teleskop radio memetakan bentuk galaksi dan adanya radiasi gelombang mikro di sana, maka mulai terkonfirmasi prediksi dalam Teori Big Bang.

Pada bulan April 1990, Teleskop Luar Angkasa Hubble mulai ditempatkan di orbit. Teleskop refleksi ini mampu memperlihatkan kondisi antariksa tanpa halangan dari atmosfer dan polusi cahaya. Lebih dari 200 tahun sejak Galileo mengarahkan teleskopnya ke langit, manusia mampu melihat luar angkasa dari langit.


Rujukan: SPACE.com



Teks dari artikel di atas memakai Lisensi CC BY-SA. Sertakan tautan postingan ini jika Anda mengutip, menyalin, mendistribusikan, dan/atau menampilkan sebagian/keseluruhan dari teks di atas.

Bagikan ke:

Tulisan Terkait