Inilah 4 Spesies Baru Asli Indonesia Tahun 2013

Indonesia terkenal dengan kekayaan alamnya, mulai dari kekayaan sumber daya alam hingga keanekaragaman hayati yang dimilikinya. Berbagai jenis hewan dan tumbuhan hidup di alam Indonesia yang begitu luas. Beberapa di antaranya baru atau bahkan belum diketahui keberadaannya hingga saat ini. Nah, berikut ini adalah 4 spesies baru yang ditemukan di Indonesia pada tahun 2013 oleh para ilmuwan.

1. Celepuk Rinjani (Otus jolandae)

Celepuk-RinjaniCelepuk rinjani sejatinya bukanlah sosok yang asing bagi para ilmuwan. Salah satu jenis burung hantu ini pertama kali ditemukan oleh naturalis asal Inggris, Alfred Everett, pada Mei 1986 di Taman Nasional Gunung Rinjani. Semula burung ini diberi nama Pisorhina albiventris, namun kemudian dianggap sebagai anak jenis dari celepuk maluku (Otus magicus) sehingga mendapat nama ilmiah Otus magicus albiventris. Pada tahun 2003, sejumlah peneliti yang dipimpin George Sangster, seorang ilmuwan dari Jurusan Zoologi Universitas Stockholm Swedia, membuktikan bahwa suara celepuk yang mereka teliti itu merupakan jenis tersendiri. Kemudian pada tahun 2008, dua peneliti asal Belgia Philippe Verbelen dan Bram Demeulemeester berhasil memotret dan merekam suara jenis yang sama dengan rekaman suara yang diperoleh Sangster. Pada tahun 2011, Jan van der Laan juga mendengar dan merekam suara jenis ini.

Hasil analisis rekaman menunjukkan bahwa suara teritorial celepuk rinjani berbeda dengan jenis celepuk yang lainnya. Suara celepuk rinjani berupa siulan tunggal “pok” tanpa nada tambahan. Masyarakat lokal pun sering menyebutnya burung pok. Selain itu, para peneliti juga menemukan corak bulu bagian atas berbeda dengan celepuk lain. Sehingga burung ini mendapakan nama ilmiah baru Otus jolandae. Hasil penelitian ini dimuat dalam jurnal PLOS ONE edisi Februari 2013 oleh tim gabungan ilmuwan Swedia, Belgia, Amerika Serikat, dan Australia.

2. Hiu Berjalan Halmahera (Hemiscyllium halmahera)

Hiu-BerjalanHiu berjalan halmahera merupakan spesies dari keluarga Hiu Epaulette, atau Hiu Berjalan. Hiu berjalan ini diberi nama Hemiscyllum halmahera dan merupakan hiu berjalan kesembilan yang ada di dunia. Spesies ini ditemukan di perairan Halmahera, Maluku Utara. Tiga orang peneliti bernama Gerald R. Allen, Mark V. Edmann dan Christine L. Dudgeon memastikan bahwa spesies baru ini berbeda dari spesies sejenis bernama Hemiscyllum galei yang ditemukan di Teluk Cenderawasih, Papua Barat dan Hemiscyllum freycineti yang ditemukan pada September 2006 silam.

Spesies ini termasuk spesies nokturnal atau aktif di malam hari dan umumnya bisa ditemui di perairan dangkal di dekat terumbu karang atau bahkan di cekungan air laut. Hiu spesies baru ini relatif kecil dari hiu berjalan lainnya dengan ukuran sekitar 65,6 hingga 68,1 centimeter, dan berjalan di dasar laut dengan meliukkan tubuhnya dan melangkah dengan siripnya. Hiu ini baru akan berenang ketika ada predator yang mengejarnya. Video dari hiu ini dapat dilihat di tautan ini.

3. Tikus Berduri Boki Mekot (Halmaheramys bokimekot)

Ilustrasi-tikus-berduriTikus berduri yang ditemukan di Halmahera, Maluku Utara ini bukan hanya spesies baru melainkan juga genus baru. Tikus berduri ini diberi nama latin Halmaheramys bokimekot, nama Boki Mekot diambil dari wilayah pegunungan di Halmahera tempat tikus tersebut ditemukan. Spesies tikus itu ditemukan lewat proyek penelitian dari ilmuwan Universitas Kopenhagen dan Museum Zoologi Bogor. Tikus jenis baru tersebut memiliki bulu-bulu yang keras menyerupai duri. Bagian punggung tubuhnya berwarna coklat dengan ujung ekor berwarna putih serta bagian perut berwarna kelabu terang.

Para ahli dari Universitas Kopenhagen dan Museum Zoologi Bogor menggunakan perangkap berupa kelapa yang dibakar dan selai kacang yang ditaruh di batang pohon dan liang-liang untuk menangkap hewan pengerat ini. Hingga saat ini hanya enam individu dari spesies baru ini yang sudah ditangkap untuk dipelajari: tiga jantan dewasa dan tiga betina. Hanya sedikit dari kebiasaan spesies ini yang sudah diketahui, tetapi menurut para ahli mereka kemungkinan adalah omnivora.

Ukuran Tikus Berduri Foto: Universitas Kopenhagen — kemungkinan memiliki hakcipta

Ukuran Tikus Berduri
Foto: Universitas Kopenhagen — kemungkinan memiliki hakcipta

4. Ikan Karang Renny (Paracheilinus rennyae)

Ikan-RennyaeIkan karang renny ditemukan di kawasan terumbu karang Pulau Flores dan Taman Nasional Komodo yang masuk dalam kawasan Segitiga Terumbu Karang dunia. Spesies ikan ini merupakan jenis ikan karang dari genus Paracheilinus yang disebut flasherwrasse. Ikan rennyae merupakan spesies flasherwrasse ke-17 yang sudah ditemukan. Namun, secara genetik, spesies tersebut unik. Pola warnanya juga berbeda dengan flasherwrasse lain. Keunikan lainnya adalah sirip punggung dan belakang serta ekor yang berbentuk lingkaran. Flasherwrasse selalu menjadi ikan favorit penyelam dan fotografer bawah laut karena pola warna biru dan merahnya yang menarik. Penemuan itu merupakan hasil kerja sama antara Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati dan Conservation International.

Spesies ikan baru tersebut diberi nama latin Paracheilinus rennyae. Rennyae diambil dari nama penemunya Renny Kurnia Hadiaty, dari Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Saat ini Renny menjadi kurator koleksi ikan di Museum Zoologi Bogor. Ia telah menghabiskan 27 tahun hidupnya sebagai peneliti ikan.


Daftar Pustaka:

1. Wihardandi, Aji. “Celepuk Rinjani, Spesies Baru dari Pulau Lombok“. Mongabay Indonesia. Tanggal: 14 Februari 2013. Diakses pada: 22 Desember 2013.

2. Wihardandi, Aji. “Video: Spesies Baru Hiu Berjalan Ditemukan di Perairan Halmahera“. Mongabay Indonesia. Tanggal: 12 Agustus 2013. Diakses pada: 22 Desember 2013.

3. Utomo, Yunanto Wiji. “Setelah Hiu Berjalan, Kini Halmahera Punya Tikus Berduri“. KOMPAS.COM. Tanggal: 23 September 2013. Diakses pada: 22 Desember 2013.

4. Wihardandi, Aji. “Kekayaan Hayati: Genus Baru Pengerat Ditemukan di Maluku Utara“. Mongabay Indonesia. Tanggal: 22 September 2013. Diakses pada: 22 Desember 2013.

5. Utomo, Yunanto Wiji. “Peneliti Indonesia Diabadikan sebagai Nama Jenis Ikan Baru“. KOMPAS.COM. Tanggal: 13 November 2013. Diakses pada: 22 Desember 2013.



Teks dari artikel di atas memakai Lisensi CC BY-SA. Sertakan tautan postingan ini jika Anda mengutip, menyalin, mendistribusikan, dan/atau menampilkan sebagian/keseluruhan dari teks di atas.

Bagikan ke:

Tulisan Terkait